<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5309596783308210265</id><updated>2011-11-27T15:33:27.654-08:00</updated><category term='Koperasi'/><title type='text'>BLOGLYLIE</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bloglylie.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5309596783308210265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bloglylie.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-xAxsiuG4Ei8/TYnL06BDHhI/AAAAAAAACJ8/z9rEz9muD7A/s220/kerudung%2Banak.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5309596783308210265.post-1570662091052920044</id><published>2010-04-13T14:10:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T16:36:05.145-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koperasi'/><title type='text'>SHU Koperasi Haram?</title><content type='html'>&lt;div class="postbody" style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="author"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;img alt="Post" src="http://illiweb.com/fa/subsilver/icon_minipost.gif" title="Post" /&gt;&amp;nbsp;by&amp;nbsp;&lt;a href="http://cooperative-naive.forumotion.net/profile.forum?mode=viewprofile&amp;amp;u=8"&gt;vedia&lt;/a&gt;  on Thu Feb 25, 2010 9:19 am&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="content clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Di copas dari  &lt;a href="http://blog.re.or.id/koperasi-sirkah-ta-awuniyah-dalam-pandangan-islam.htm" target="_blank"&gt;http://blog.re.or.id/koperasi-sirkah-ta-awuniyah-dalam-pandangan-islam.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Koperasi  - Sirkah Ta’awuniyah - dalam Pandangan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sirkah  berarti ikhtilath . Para fuqaha mendefinisikan sebagai Akad antara  orang-orang yg berserikat dalam hal modal dan keuntungan. Definisi ini  dari mazhab Hanafi. Sebelum membahas tentang koperasi sirkah secara umum  disyariatkan dgn Kitabullah Sunnah dan Isjma’.Di dalam Kitabullah Allah  berfirman yg artinya “Maka mereka bersekutu dalam yg sepertiga.” “Dan  sesungguhnya kebanyakan orang-orang yg berserikat itu sebagian mereka  berbuat zalim kepada sebagian yg lain kecuali orang-orang yg beriman dan  beramal shaleh; dan amat sedikitlah mereka itu.” Di dalam As-Sunnah  Rasulullah SAW bersabda yg artinya “Allah SWT berfirman “Aku ini Ketiga  dari dua orang yg berserikat selama salah seorang mereka tidak  mengkhianati temannya. Apabila salah seorang telah berkhianat terhadap  temannya Aku keluar dari antara mereka.” Adapun para ulama telah  berijma’ mengenai bolehnya berserikat . Lalu bagaimana dgn koperasi atau  Sirkah Ta’awuniyah? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dari segi etimologi kata “koperasi” berasal dan  bahasa Inggris yaitu cooperation yg artinya bekerja sama. Sedangkan dari  segi terminologi koperasi ialah suatu perkumpulan atau organisasi yg  beranggotakan orang-orang atau badan hukum yg bekerja sama dgn penuh  kesadaran utk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela  secara kekeluargaan. Koperasi dari segi bidang usahanya ada yg hanya  menjalankan satu bidang usaha saja misalnya bidang konsumsi bidang  kiedit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha tunggal . Ada  pula koperasi yg meluaskan usahanya dalam berbagai bidang disebut  koperasi serba usaha misalnya pembelian dan penjualan. Dari pengertian  koperasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yaag mendasari gagasan  koperasi sesungguhnya adl kerja sama gotong-royong dan demokrasi ekonomi  menuju kesejahteraan umum. Keja sama dan gotong-royong ini  sekurang-kurangnya dilihat dari dua segi. Pertama modal awal koperasi  dikumpulkan dari semua anggota-anggotanya. Mengenai keanggotaan dalam  koperasi berlaku asas satu anggota satu suara. Karena itu besarnya modal  yg dimiliki anggota tidak menyebabkan anggota itu lbh tinggi  kedudukannya dari anggota yg lbh kecil modalnya. Kedua permodalan itu  sendiri tidak merupakan satu-satunya ukuran dalam pembagian sisa hasil  usaha. Modal dalam koperasi diberi bunga terbatas dalam jumlah yg sesuai  dgn keputusan rapat anggota. Sisa hasil usaha koperasi sebagian Uesar  dibagikan kepada anggota berdasarkan besar kecilnya peranan anggota  dalam pemanfaatan jasa koperasi. Misalnya dalam koperasi konsumsi  semakin banyak membeli seoranganggota akan mendapatkan semakin banyak  keuntungan. Hal ini dimaksudkan utk lbh merangsang peran anggota dalam  perkoperasian itu. Karena itu dikatakan bahwa koperasi adl perkumpulan  orang bukan perkumpulan modal. Sebagai badan usaha koperasi tidak  semata-mata mencari keuntungan akan tetapi lbh dari itu koperasi  bercita-cita memupuk kerja sama dan mempererat persaudaraan di antara  sesama anggotanya. Lalu bagaimana koperasi menurut pandangan Islam dan  bagaimana pendapat para ulama mengenai koperasi? Di bawah ini akan  dicoba mengulas masalah tersebut.Sebagian ulama menganggap koperasi  sebagai akad mudharabah yakni suatu perjanjian kerja sama antara dua  orang atau lebih di satu pihak menyediakan modal usaha sedangkan pihak  lain melakukan usaha atas dasar profit sharing menurut perjanjian dan di  antara syarat sah mudharabah itu ialah menetapkan keuntungan tiap tahun  dgn persentasi tetap misalnya 1% setahun kepada salah satu pihak dari  mudharabah tersebut. Karena itu apabila koperasiitu termasuk mudharabah  atau qiradh dgn ketentuan tersebut di atas maka akad mudharabah itu  tidak sah dan seluruh keuntungan usaha jatuh kepada pemilik modal  sedangkan pelaksana usaha mendapat upah yg sepadan atau pantas. Mahmud  Syaltut tidak setuju dgn pendapat tersebut sebab Syirkah Ta’awuniyah  tidak mengandung unsur mudharabah yg dinimuskan oleh fuqaha. Sebab  Syirkah Ta’awuniyah modal usahanya adl dari sejumlah anggota pemegang  saham dan usaha koperasi itu dikelola oleh pengurus dan karyawan yg  dibayar oleh koperasi menurut kedudukan dan fungsinya masing-masmg.  Kalau pemegang saham turut mengelola usaha koperasi itu maka ia berhak  mendapat gaji sesuai dgn sistem penggajian yg balaku. Menurut Muhammad  Syaltut koperasi merupakan syirkah baru yg diciptakan oleh para ahli  ekonomi yg dimungkinkan banyak sekali manfaatnya yaitu membari  keuntungan kepada para anggota pemilik saham membori lapangan kerja  kepada para karyawannya memberi bantuan keuangan dan sebagian hasil  koperasi utk mendirikan tempat ibadah sekolah dan sebagainya. Dengan  demikian jelas bahwa dalam koperasi ini tidak ada unsur kezaliman dan  pemerasan . Pengelolaannya demokratis dan terbuka serta membagi  keuntungan dan kerugian kepada para anggota menurut ketentuan yg berlaku  yg telah diketahui oleh seluruh anggota pemegang saham. Oleh sebab itu  koperasi itu dapat dibenarkan oleh Islam. Menurut Sayyid Sabiq Syirkah  itu ada empat macam yaitu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syirkah ‘Inan Syirkah ‘Inan yaitu kerja  sama antara dua orang atau lbh dalam permodalan utk melakukan suatu  usaha bersama dgn cara membagi untung atau rugi sesuai dgn jumlah modal  masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syirkah MufawadhahSyirkah Mufawadhah yaitu kerja sama  antara dua orang atau lbh utk melakukan suatu usaha dgn persyaratan  sebagai benkut &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Modalnya harus sama banyak. Bila ada di antara  anggota persyarikatan modalnya lbh besar maka syirkah itu tidak sah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Mempunyai  wewenang utk bertindak yg ada kaitannya dgn hukum. Dengan demikian  anak-anak yg belum dewasa belum bisa menjadi anggota persyarikatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Satu  agama sesama muslim. Tidak sah bersyarikat dgn non muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Masing-masing  anggota mempunyai hak utk bertindak atas nama syirkah . &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syirkah  Wujuh Syirkah Wujuh yaitu kerja sama antara dua orang atau lbh utk  membeli sesuatu tanpa modal tetapi hanya modalkepercayaan dan keuntungan  dibagi antara sesama mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Syirkah Abdan Syirkah Abdan yaitu karja  sama antara dua orang atau lbh utk melakukan suatu usaha atau  pekerjaan. Hasilnya dibagi antara sesama mereka berdasarkan perjanjian  seperti pemborong bangunan instalasi listrik dan lainnya. Mazhab  Hanafiah menyetujui keempat macam Syirkah tersebut. Sementara mazhab  Syafi’iah melarang Syirkah Abdan Mufawadhah Wujuh dan membolehkan  Syirkah Inan. Tiga macam dilarang dan hanya satu macam saja yg  dibolehkan. Mazhab Malikiah membolehkan Syirkah Abdan Syirkah ‘Inan dan  Syirkah Mufawadhah dan melarang Syirkah Wujuh. Mazhab Hanabilah  membolehkan Syirkah ‘Inan Wujuh dan Abdan dan melarang Syirkah  Mufawadhah. Selain Imam Mujtahid yg empat itu masih ada lagi pendapat  ulama-ulama lainnya sebagaimana terlihat pada uraian berikutnya.  Mengenai status hukum berkoperasi bagi urnmat Islam juga didasarkan pada  kenyataan bahwa koperasi merupakan lembaga ekonomi yg dibangun oleh  pemikiran barat terlepas dari ajaran dan kultur Islam. Artinya bahwa  Al-Quran dan hadis tidak menyebutkan dan tidak pula dilakukan orang pada  zaman Nabi. Kehadirannya di beberapa negara Islam mengundang para ahli  utk menyoroti kedudukan hukumnya dalam Islam. Khalid Abdurrahman Ahmad  panulis Al-Tafkir Al-Iqrishadi Fi Al-Islam Penulis Timur Tengah ini  berpendapat haram bagi ummat Islam berkoperasi. Sebagai konsekuensinya  penulis ini juga mengharamkan harta yg diperoleh dari koperasi.  Argumentasinya dalam mengharamkan koperasi ialah pertama disebabkan krn  prinsip-prinsip keorganisasian yg tidak memenuhi syarat-syarat yg  ditetapkan syariah. Di antara yg dipersoalkan adl persyaratan anggota yg  harus terdiri dari satu jenis golongan saja yg dianggap akan membentuk  kelompok-kelompok yg eksklusif. Argumen kedua adl mengenai  ketentuan-ketentuan pembagian keuntungan. Koperasi mengenal pembagian  keuntungan yg dilihat dari segi pembelian atau penjualan anggota di  koperasinya. Cara ini dianggap menyimpang dari ajaran Islam krn menurut  bentuk kerja sama dalam Islam hanya mengenal pembagian keuntungan atas  dasar modal atas dasar jerih payah atau atas dasar keduanya. Argumen  selanjutnya adl didasarkan pada penilaiannya mengenai tujuan utama  pembentukan koperasi dgn persyaratan anggota dan golongan ekonomi lemah  yg dianggapnya hanya bermaksud utk menenteramkan mereka dan membatasi  keinginannya serta utk mempermainkan mereka dgn ucapan-ucapan atau  teori-teori yg utopis . Pendapat tersebut belum menjadi kesepakatan/ijma  para ulama. Sebagai bagian bahasan yg bermaksud membuka spektrum hukum  berkoporasi maka selain melihat segi-segi etis hukumberkoperasi dapat  dipertimbangkan dari kaidah penetapan hukum ushul al-fiqh yg lain. Telah  diketahui bahwa hukum Islam mengizinkan kepentingan masyarakat atau  kesejahleraan bersama melalui prinsip ishtishlah atau al-maslahah. Ini  berarti bahwa ekonomi Islam harus memberi prioritas pada kesejahleraan  rakyat bersama yg merupakan kepentingan masyarakat. Dengan menyoroti  fungsi koperasi di antaranya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sebagai alat perjuangan ekonomi utk  mempertinggi kesejahteraan rakyat dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Alat pendemokrasian ekonomi  nasional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan demikian bahwa prinsip ishtishlah dipenuhi di  sini dipenuhi oleh koperasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian juga halnya jika dilihat  dari prinsip istihsan . Menyoroti koperasi menurut metode ini paling  tidak dapat dilihat pada tingkat makro maupun mikro. Tingkat makro  berarti mempertimbangkan koperasi sebagai sistem ekonomi yg lbh dekat  dgn Islam dibanding kapitalisme dan sosialisme. Pada tingkat mikro  berarti dgn melihat terpenuhi prinsiphubungan sosial secara saling  menyukai yg dicerninkan pada prinsip keanggotaan terbuka dan sukarela  prinsip mementingkan pelayanan anggota dan prinsip solidaritas. Dengan  pendekatan kaidah ishtishlah dan istihsan di atas ada kecenderungan  dibolehkannya kegiatan koperasi. Juga telah disebutkan banyak segi-segi  falsafah etis dan manajerial yg menunjukkan keselarasan kesesuaiandan  kebaikan koperasi dalam pandangan Islam. Secara keseluruhan hal ini  telah memberi jalan ke arah istimbath hukum terhadap koperasi. Hasil  istimbath ini tidak sampai kepada wajib juga tidak sampai kepada haram  sebagaimana dikemukakan oleh Khalid Abdurrahman Ahmad. Jika demikian  halnya lantas bagaimana hukum berkoperasi? Kembali pada sifat koperasi  sebagai praktek mu’amalah maka dapat ditetapkan hukum koperasi adl  sesuai dgn ciri dan sifat-sifat koperasi itu sendiri dalam menjalankan  roda kegiatannya. Karena dalam kenyataannya koperasi itu berbeda-beda  substansi model pergerakannya. Misalnya koperasi simpan pinjam berbeda  dgn koperasi yg bergerak dalam bidang usaha perdagangan dan jasa  lainnya. Koperasi simpan pinjam bahkan banyak yg lbh tinggi bunga yg  ditetapkannya bagi para peminjam daripada bunga yg ditetapkan oleh  bank-bank konvensional. Tentunya hal seperti ini tidak diragukan lagi  adl termasuk riba yg diharamkan. Adapun koperasi semacam kumpulan orang  yg mengusahakan modal bersama utk suatu usaha perdagangan atau jasa yg  dikelola bersama dan hasil keuntungan dibagi bersama selagi perdagangan  atau jasa itu layak dan tidak berlebihan di dalam mengambil keuntungan  maka dibolehkan apalagi jika keberadaan koperasi itu memudahkan dan  meringankan bagi kepentingan masyarakat yg bersangkutan. Terakhir kami  ingatkan kembali sebuah firman Allah SWT yg artinya “Dan sesungguhnya  kebanyakan orang-orang yg berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim  kepada sebagian yg lain kecuali orang-orang yg beriman dan beramal  shaleh; dan amat sedikitlah mereka itu.”Wallohu a’lam. Daftar pustaka &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Fiqhus  Sunnah Sayyid Sabiq jilid 13.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Al-Fatawa Muhammad Syalthut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Islam  dan Koperasi Ahmad Dimyadhi dan kawan-kawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Deskripsi Ekonomi Islam  Monzer Kahf. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sumber Diadaptasi dari “Masail Fiqhiyah Zakat  Pajak Asuransi dan Lembaga Keuangan” M. Ali. Hasan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;sumber file  al_islam.chm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="postprofile" id="profile88" style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="http://cooperative-naive.forumotion.net/coop-believers-f11/shu-koperasi-haram-t75.htm#top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;/dl&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5309596783308210265-1570662091052920044?l=bloglylie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bloglylie.blogspot.com/feeds/1570662091052920044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bloglylie.blogspot.com/2010/04/shu-koperasi-haram.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5309596783308210265/posts/default/1570662091052920044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5309596783308210265/posts/default/1570662091052920044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bloglylie.blogspot.com/2010/04/shu-koperasi-haram.html' title='SHU Koperasi Haram?'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-xAxsiuG4Ei8/TYnL06BDHhI/AAAAAAAACJ8/z9rEz9muD7A/s220/kerudung%2Banak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5309596783308210265.post-6408480380727706895</id><published>2010-04-13T05:21:00.000-07:00</published><updated>2010-04-24T16:37:38.436-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koperasi'/><title type='text'>Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa) Ditinjau dari Syariat Islam</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Koperasi Simpan Pinjam (KOSIPA) adalah sebuah koperasi yang modalnya diperoleh dari simpanan pokok dan simpanan wajib para anggota koperasi. Kemudian modal yang telah terkumpul tersebut dipinjamkan kepada para anggota koperasi dan terkadang juga dipinjamkan kepada orang lain yang bukan anggota koperasi yang memerlukan pinjaman uang, baik untuk keperluan komsumtif maupun untuk modal kerja. Kepada setiap peminjam, KOSIPA menarik uang administrasi setiap bulan sejumlah sekian prosen dari uang pinjaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Pada akhir tahun, keuntungan yang diperoleh KOSIPA yang berasal dari uang administrasi tersebut yang disebut "Sisa Hasil Usaha" (SHU) dibagikan kepada para anggota koperasi. Adapun jumlah keuntungan yang diterima oleh masing-masing anggota koperasi diperhitungkan menurut keseringan anggota meminjam uang dari KOSIPA. Artinya, anggota yang paling sering meminjam uang dari KOSIPA tersebut akan mendapat bagian paling banyak dari SHU; dan tidak diperhitungkan dari jumlah simpanannya, karena pada umumnya jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib dari masing-masing anggota adalah sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sekilas lintas KOSIPA ini nampak seperti usaha gotong royong yang meringankan beban para anggota, menolong mereka dari jeratan lintah darat dan menguntungkan mereka sendiri, karena SHU dari KOSIPA tersebut mereka terima setiap akhir tahun. Sehingga karenanya, tidaklah mengherankan jika ada orang yang menyamakan praktek mu'amalah (simpan pinjam) dari KOSIPA ini dengan praktek mu'amalah (simpan pinjam) dari Bank yang hukumnya telah ditetapkan dalam Muktamar NU di Menes Jawa Barat ditafsil menjadi tiga, yaitu: haram, syubhat, halal. Padahal ada perbedaan yang prinsip antara mu'amalah dari KOSIPA dan mu'amalah dari Bank, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang yang meminjam uang dari KOSIPA, meskipun jumlahnya hanya separo dari uang simpanannya sendiri, dia tetap dianggap sebagai peminjam yang diharuskan membayar uang administrasi. Mu'amalah ini sama sekali tidak dapat diterima oleh akal fikiran yang sehat (irrational). Sedang di Bank, seseorang diperbolehkan mengambil seluruh uang simpanannya, kecuali sejumlah sekian ribu yang harus disisakan sebagai bukti bahwa dia masih tercatat sebagai nasabah, dan dia tidak dianggap sebagai peminjam dan juga tidak dikenakan bunga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Uang yang disimpan di KOSIPA, baik simpanan pokok maupun simpanan wajib, tidak dapat diambil sewaktu-waktu diperlukan oleh si penyimpan; sedangkan uang yang disimpan di Bank dapat diambil sewaktu-waktu diperlukan oleh si penyimpan. Bunga yang diberikan oleh Bank kepada orang yang menyimpan uangnya di Bank tersebut hanya diperhitungkan dengan jumlah uang yang disimpan; sedang di KOSIPA pembagian SHU tidak hanya diperhitungkan dengan uang simpanannya, melainkan dengan keseringan meminjam uang dari KOSIPA tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Disamping itu, hukum tafsil dari menyimpan dan meminjam pada Bank yang telah diputuskan oleh Mu'tamar NU di Menes seperti tersebut di atas, bukanlah berarti kita boleh memilih salah satu dari ketiga hukum tersebut sesuka hati kita. Akan tetapi penerapan dari ketiga hukum tersebut adalah per kasus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kasus 1&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seorang pemborong muslim yang memperoleh kontrak untuk membangun sebuah pabrik besar yang biayanya menelan sekian milyar rupiah. Dari pekerjaan tersebut dia akan memperoleh keuntungan secara jelas sejumlah sekian juta rupiah yang di antaranya dapat dipergunakan untuk kepentingan agama Islam. Sedangkan jika kontrak tersebut tidak ditangani olehnya akan diambil oleh pemborong non-muslim yang jelas keuntungannya akan dipergunakan untuk hal-hal yang merugikan agama Islam. Akan tetapi si pemborong muslim tersebut tidak mempunyai modal cukup untuk membiayai proyek pembuatan pabrik tersebut. Dalam kasus seperti ini, si pemborong muslim tersebut dihalalkan untuk memminjam uang dari Bank.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian pula halnya seseorang yang sejumlah uang, sedangkan dia tidak dapat men-tasaruf-kan uang tersebut untuk usaha dagang atau lainnya, karena sama sekali tidak mempunyai pengalaman; dan apabila uang tersebut disimpan di rumah takut dicuri orang dan lain sebagainya, serta akan lekas habis untuk membiayai keperluan hidup diri dan keluarganya sebelum umur _ghalib), maka dalam kasus seperti ini orang tersebut dihalalkan untuk menyimpan uangnya di Bank dan memakan bunganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kasus 2&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Seorang pemilik rumah tempat indekos anak-anak sekolah di sebuah kota kecil, kemudian dia meminjam uang dari bank untuk memperbesar rumah tersebut karena membayangkan (tanpa ada indikasi yang jelas) akan dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang indekos di situ, sehingga akan menambah jumlah uang yang masuk. Dalam kasus seperti ini, si pemilik rumah tersebut dihukumi syubhat meminjam uang dari Bank untuk memperbesar rumah indekosan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian pula halnya seorang pedagang yang karena situasi ekonomi yang labil, dia tidak lagi mau menginvestasikan modalnya dalam perdagangan karena khawatir tidak mendapat laba yang besar, kemudian dia simpan modalnya di Bank yang jelas akan mendapat bunga tanpa susah payah. Maka dalam kasus ini si pedagang tersebut dihukumi syubhat untuk menyimpan uangnya di Bank dan memakan bunganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Kasus 3&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Orang yang meminjam uang dari Bank untuk keperluan membeli pesawat TV atau alat-alat mebelair atau lainnya yang bersifat konsumtif, hukumnya adalah haram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Demikian pula halnya orang yang tidak mau menginvestasikan uangnya dalam perdagangan atau lainnya, karena melihat bunga yang ditawarkan oleh Bank jauh lebih besar dari pada keuntungan yang dapat diterima dari bisnis perdagangan atau lainnya. Dalam kasus seperti ini orang tersebut haram menyimpan uangnya di Bank dan juga haram memakan bunga yang diberikan oleh Bank.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Adapun KOSIPA ditinjau dari hukum syariat Islam, maka:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Modal yang dikumpulkan oleh KOSIPA dari uang simpanan pokok dan simpanan wajib, tidak dapat memenuhi ketantuan "Syirkah" sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab fikih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Hal ini dikarenakan:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Dalam syirkah, pengumpulan modal itu diharuskan berupa lafal yang dapat&amp;nbsp;&amp;nbsp; dirasakan sebagai pemberian idzin untuk berdagang. Sedangkan dalam KOSIPA pengumpulan modal tersebut adalah untuk dipinjamkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Dalam syirkah, modal harus sudah terkumpul sebelum dilakukan akad syirkah. Sedangkan dalam KOSIPA, biasanya modal baru dikumpulkan sesudah akad dengan persetujuan dari para anggota. Jadi akad pengumpulan modal dalam KOSIPA tersebut tidak mengikuti ketentuan syara'.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Dasar Pengambilan Hukum&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kitab Fat-hul Mu'in halaman 80&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;وَشُرِطَ فِيْهَا لَفْظٌ يَدُلُّ عَلَى الإِذْنِ فِى التَّصَرُّفِ بِالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Dan dalam syirkah itu disyaratkan ada lafal yang menunjukkan kepada izin untuk mentasarufkan dalam menjual dan membeli (berdagang).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Yang senada dengan dalil di atas, adalah ibarat dari kitab-kitab:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Nihayatul Muhtaj, juz 5 halaman 4.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Bujairimi 'ala Fat-hil Wahhab juz 3 halaman 43.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kitab Tuhfatut Thullaab, hamisy dari kitab Fat-hul Wahhaab, juz 1 halaman 217, disebutkan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;هِيَ شِرْكَةُ أَبْدَانٍ ... اِلَى اَنْ قَالَ : وَشُرِطَ فِيْهَا لَفْظٌ يُشْعَرُ بِاِذْنٍ فِى تِجَارَةٍ ... اِلَى اَنْ قَالَ : وَفِى الْمَعْقُوْدِ عَلَيْهِ كَوْنُهُ مِثْلِيًّا خَلَطَ قَبْلَ الْعَقْدِ بِحَيْثُ لاَ يُتَمَيَّزُ .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Syirkah itu (antara lain) adalah syirkan badan ... sampai ucapan mushannif: "Dalam syirkah tersebut disyaratkan ada lafal yang dapat dirasakan sebagai idzin dalam perdagangan" ... sampai ucapan mushannif: "Dan mengenai harta yang diakadi, disyaratkan keadaan harta (modal syirkah) tersebut adalah sama jumlahnya yang telah bercampur menjadi satu sebelum akad, sekira tidak dapat dibedakan (antara harta dari masing-masing anggota syirkah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Uang administrasi yang dipungut oleh KOSIPA dari setiap orang yang meminjam, hanyalah merupakan istilah lain dari bunga, karena:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1. Uang administrasi tersebut merupakan keharusan yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang meminjam uang, sehingga pada hakekatnya tidak berbeda dengan manfa'at yang ditarik oleh yang meminjamkan uang (KOSIPA).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2. Besarnya uang administrasi yang dipungut oleh KOSIPA dari setiap orang yang meminjam uang, telah ditentukan terlebih dahulu, yaitu sesuai dengan besarnya uang pinjaman, yaitu sekian prosen dari jumlah pinjaman, berdasarkan keputusan rapat anggota KOSIPA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;3. Masih perlu dipersoalkan lagi mengenai akad pinjaman tersebut. Jika jumlah uang yang dipinjam oleh anggota KOSIPA adalah sama atau kurang sedikit dari uang simpanannya sendiri, maka akad pinjaman tersebut adalah fasid atau rusak, sebab anggota tersebut mengambil miliknya sendiri. Dan jika lebih dari uang simpanannya sendiri, maka jumlah pinjaman hanyalah sebesar kelebihan tersebut. Dalam hal ini jika di-akad-i seluruhnya, maka hukumnya juga fasid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jadi tanpa memperhatikan apakah syarat pemberian uang administrasi tersebut dilakukan pada waktu akad pinjam meminjam sedang berlangsung, atau sebelum akad atau sesudah akad; dan apakah syarat tersebut berbentuk ucapan atau tulisan, yang kesemuanya memerlukan pembahasan tersindiri, maka pungutan uang administrasi tersebut dapat dimasukkan dalam pengertian hadits Nabi saw. yang berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ الرِّبَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;"Setiap hutang yang menarik kemanfa'atan adalah perbuatan riba".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Koperasi menurut Syariat Islam&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Jika kita ingin mendirikan koperasi yang tidak bertentangan dengan syari'at agama Islam, sedang kita bermaksud untuk memberikan bantuan pinjaman uang kepada para anggota yang memerlukannya, maka cara yang harus kita lakukan adalah mendirikan KOPERASI SERBA GUNA.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Langkah-langkah yang harus dilakukan antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Setelah modal dari para anggota terkumpul, seluruh anggota dipanggil untuk melakukan kesepakatan (akad) bahwa modal yang telah terkumpul menjadi satu tersebut akan dipergunakan untuk berdagang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Koperasi membeli barang-barang yang akan dibeli oleh setiap orang yang memerlukannya, termasuk blangko formulir yang akan dibeli oleh orang ingin meminjam uang dari Koperasi Serba Guna tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Setiap orang yang ingin meminjam uang dari koperasi tersebut diharuskan mengisi formulir yang harus dibeli dari koperasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;* Warna dari kertas formulir yang dijual oleh koperasi harus dibedakan sesuai dengan jumlah uang yang akan dipinjam, misalnya: Untuk pinjaman sebesar Rp.25.000- warnanya putih; untuk Rp 50.000,- warnanya kuning; untuk Rp 75.000,- warnanya hijau; untuk Rp 100.000,- warnanya merah; dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Sedang harga dari blanko formulir tersebut dibedakan sesuai dengan warnanya, menurut keputusan rapat anggota. Dengan demikian koperasi tidak memungut uang administrasi atau bunga, tetapi memperoleh keuntungan dari penjualan formulir, seperti Kantor Pos menjual perangko dan koperasi selamat dari perbuatan atau mu'amalah yang riba.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Penulis:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Drs. KH. Achmad Masduqi Machfudh &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #38761d; font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;(Diambil dari Situs Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Nurul Huda)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5309596783308210265-6408480380727706895?l=bloglylie.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bloglylie.blogspot.com/feeds/6408480380727706895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bloglylie.blogspot.com/2010/04/koperasi-simpan-pinjam-kosipa-ditinjau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5309596783308210265/posts/default/6408480380727706895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5309596783308210265/posts/default/6408480380727706895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bloglylie.blogspot.com/2010/04/koperasi-simpan-pinjam-kosipa-ditinjau.html' title='Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa) Ditinjau dari Syariat Islam'/><author><name>Admin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-xAxsiuG4Ei8/TYnL06BDHhI/AAAAAAAACJ8/z9rEz9muD7A/s220/kerudung%2Banak.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
